Penelitian Ungkap Keringat Manusia Bisa Jadi Obat Penyakit Lyme : Okezone health

Berita20 Dilihat

PENELITIAN yang baru saja diterbitkan di jurnal Nature Communications mengungkap bahwa keringat manusia bisa menjadi obat dari penyakit Lyme, infeksi bakteri yang disebabkan oleh kutu. Ini dimungkinkan oleh protein unik di keringat yang berhasil ditemukan para ilmuwan.

Sebelumnya, para ilmuwan menjelajahi kumpulan data besar informasi genetik manusia dan membandingkan gen orang-orang dengan dan tanpa penyakit Lyme. Mereka menemukan tiga gen yang terkait dengan risiko infeksi yang lebih tinggi, dua di antaranya diketahui terkait dengan penyakit tersebut.

Namun, gen ketiga, yang membuat sejenis protein ditemukan di kulit dan keringat tidak pernah terikat padanya. Gen mutan yang dibawa oleh penderita penyakit Lyme tampaknya meningkatkan kerentanan mereka terhadap penyakit tersebut, melansir Live Science, Senin (1/4/2024).

Para peneliti kemudian menemukan bahwa versi standar dan non-varian dari gen itu sebenarnya dapat mencegah pertumbuhan bakteri penyebab penyakit Lyme, setidaknya pada percobaan terhadap tikus. Dan dikatakan sekitar 60 persen orang diperkirakan membawa versi standar gen tersebut.

Michal Tal, ilmuwan utama di Massachusetts Institute of Technology menyebut jenis penelitian ini, yang menyaring sejumlah besar genom manusia untuk mencari gen yang terkait dengan kondisi tertentu, belum pernah dilakukan untuk penyakit Lyme.

Dalam penelitiannya Michal dan tim memulai dengan data dari proyek FinnGen, yang berisi informasi genetik lebih dari 410.000 orang Finlandia, termasuk lebih dari 7.000 orang yang didiagnosis menderita penyakit Lyme.

Penelitian mengungkap varian misterius gen yang membuat protein yang disebut secretoglobin family 1D member 2 (SCGB1D2), yang mana Sekretoglobin sendiri adalah protein kecil yang disekresikan oleh sel, dan dalam hal ini ditemukan di kelenjar keringat.

Para peneliti awalnya memposting penemuan ini secara online dalam makalah pracetak, dan tak lama kemudian, mereka mendengar dari sebuah kelompok di Estonia yang telah menemukan varian gen yang sama saat memeriksa data dari Estonian Biobank. Repositori tersebut berisi data lebih dari 210.000 orang Estonia, termasuk 18.000 penderita penyakit Lyme.

Baca Juga  Caleg Partai Perindo Muhammad Sopiyan Gelar Bazar Murah, Warga Doakan Menang : Okezone News

Kedua kelompok memutuskan untuk berkolaborasi, memasukkan data tambahan ke dalam penelitian yang sekarang dipublikasikan di Nature Communications. Dalam kedua kumpulan data tersebut, orang dengan versi mutan SCGB1D2 lebih mungkin didiagnosis menderita penyakit Lyme.



Follow Berita Okezone di Google News


Dapatkan berita up to date dengan semua berita terkini dari Okezone hanya dengan satu akun di
ORION, daftar sekarang dengan
klik disini
dan nantikan kejutan menarik lainnya

Para peneliti kemudian melakukan percobaan di laboratorium di mana mereka mengekspos Borrelia burgdorferi, bakteri di balik penyakit Lyme, dengan protein keringat versi mutan dan standar. Versi standar menekan pertumbuhan bakteri, tetapi versi mutan diperlukan dua kali lebih banyak untuk mencegah pertumbuhan bakteri.

Mereka juga menyuntikkan versi standar sekretoglobin dan sekretoglobin berbeda yang biasanya ditemukan di paru-paru ke tikus dan membuat hewan pengerat tersebut terkena bakteri.

Tikus yang disuntik dengan secretoglobin paru-paru mengembangkan penyakit Lyme, namun tikus yang diberi versi standar SCGB1D2 tidak mengalami penyakit tersebut, bahkan setelah satu bulan para peneliti mengamati mereka untuk mencari tanda-tanda infeksi.

Penemuan gen ini memiliki potensi besar untuk meningkatkan pemahaman para ilmuwan tentang penyakit Lyme, kata Janis Weis, seorang profesor di Departemen Patologi di Universitas Utah di Salt Lake City, yang tidak terlibat dalam penelitian ini. Secara umum, banyak sekretoglobin yang melapisi paru-paru dan organ lain serta berperan dalam respon imun tubuh.

Mengungkap peran SCGB1D2 pada penyakit Lyme mungkin membantu para peneliti mendapatkan wawasan tentang kondisi tersebut, menjawab pertanyaan mengapa sekitar lima persen hingga 10 persen dari mereka yang terinfeksi tidak merespons pengobatan dengan baik dan dapat mengembangkan masalah kesehatan jangka panjang.

Baca Juga  Audisi Superdeal Indonesia Telah Dibuka, Warga Semarang Buruan Daftar! : Okezone Celebrity

Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *