Momen Belanda Dibuat Takut Oleh Menantu Laskar Pangeran Diponegoro di Malang yang Berangkat Haji : Okezone Nasional

Berita41 Dilihat

MALANG – Sosok KH. Thohir menjadi salah satu tokoh penting yang melanjutkan penyebaran agama Islam di Malang raya.

Sosoknya merupakan menantu anak pertama dari Kiai Hamimuddin yang menjadi pendiri masjid dan pondok pesantren (Ponpes) Bungkuk yang menjadi tertua di Malang, yang juga pengikut sekaligus laskar Pangeran Diponegoro saat peperangan melawan Belanda di tahun 1825 sampai 1830.

KH. Moensif Nachrawi, selaku generasi keempat Kiai Hamimuddin mengungkapkan, kakeknya KH. Thohir memang istimewa, beliau merupakan salah satu waliyullah dengan karomah dan kharisma yang luar biasa. Bahkan karena keistimewaannya KH. Thohir yang menunaikan ibadah haji di tahun 1930 bersama istrinya Nyai Siti Murthosiah, anaknya Kiai Anwar beserta dua putranya, Hamid dan Mudjib, membuat banyak masyarakat yang mengantarkannya sampai ke pelabuhan di Surabaya.

“Saat itu katanya antusias masyarakat untuk mengantar Kiai Thohir ke Makkah luar biasa. Di sepanjang jalan, dari Singosari sampai pelabuhan, ramai dipenuhi lautan manusia yang mengelukan Kiai Thohir,” ucap Moensif Nachrawi, beberapa waktu lalu saat ditemui di kediamannya di Jalan Bungkuk, Kelurahan Pagentan, Singosari, Kabupaten Malang.

Banyaknya warga yang menyambut keberangkatan KH. Thohir ke tanah suci membuat Belanda yang tengah menjajah Indonesia waspada. Belanda memberikan perhatian lebih kepada tokoh-tokoh yang berangkat haji, karena takut akan adanya pemberontakan atau perlawanan saat tokoh Islam usai menjalankan ibadah haji.

Pria berusia 89 tahun ini bercerita, jika memang saat kepergian untuk berangkat haji, kakeknya saat itu sempat menarik banyak perhatian pemerintah Belanda. Sampai-sampai, Belanda menyediakan kendaraan khusus untuk mengantar rombongan menuju Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya.

“Kiai Thohir ditandu dan diusung untuk melewati kerumunan orang. Sedangkan rombongan lain dilewatkan di jalur yang berbeda untuk bisa sampai di kapal yang akan memberangkatkan mereka,” ujar dia.

Baca Juga  Pasokan Listrik 100% untuk Piala Dunia U-17 2023, Anti Kedip : Okezone Economy

Namun mengenai apakah kedua orang itu menjadi orang pertama yang berangkat haji dari Malang raya seperti cerita – cerita yang beredar, KH. Moensif tak mengetahui secara pasti.





Follow Berita Okezone di Google News


Dapatkan berita up to date dengan semua berita terkini dari Okezone hanya dengan satu akun di
ORION, daftar sekarang dengan
klik disini
dan nantikan kejutan menarik lainnya

“Tapi saya tidak tahu pasti apakah itu adalah keberangkatan beliau (Kiai Thohir) ke tanah suci untuk yang pertama atau sudah kesekian,” bebernya.

Perjalanan berhaji menggunakan kapal laut saat itu membutuhkan waktu yang panjang. Dibutuhkan waktu setidaknya tiga bulan sampai setengah tahun hanya untuk menuju Makkah atau sebaliknya. Perjalanan yang cukup menguras pikiran, tenaga, waktu, dan biaya itu membuat istri Kiai Thohir, yaitu Nyai Murthosiah, wafat dalam perjalanan pulang dan disebut telah dimakamkan di lautan.

Tak berselang lama usai pulang dari tanah suci, sekitar tahun 1933 Masehi KH. Thohir wafat. Jenazahnya dimakamkan di kompleks pemakaman Bungkuk, yang ada di belakang Masjid At Thohiriyah, Bungkuk, Kelurahan Pagentan, Singosari. Makam KH. Thohir bersanding dengan mertuanya sekaligus pendiri Masjid Bungkuk yang jadi Masjid tertua di Malang raya.

“Makam beliau ada di belakang masjid yang di kasih stainless steel yang selatan Kiai Hamimuddin, utara Kiai Thohir, yang lainnya putra-putranya Kiai Thohir. Kiai Thohir punya lima orang anak putra pertamanya, setelah generasinya Kiai Thohir kepemimpinan diserahkan kepada Kiai Nahrawi,” tuturnya.

Hingga kini disebut Moensif, kompleks pemakaman Masjid Bungkuk tetap ramai diziarahi masyarakat. Guna mengetahui siapa saja yang dimakamkan di pemakaman tersebut, pengurus Masjid Bungkuk memasang nama-namanya di sisi utara.

Baca Juga  Jawa Timur Adalah Kunci! Dihadiri Ganjar-Mahfud, Konser Rakyat Digelar di Banyuwangi Pukul 13.00 Ini! : Okezone Nasional

“Tradisinya disini memang nisan tidak dikasih nama turun temurun. Sehingga banyak orang ziarah ke sini tidak tahu ini siapa ini siapa, makanya untuk menghindari supaya hal itu tidak terjadi, tembok utara ada denah silakan dilihat di sana. Orang lihat dari situ tidak lihat dari batu nisannya,” pungkasnya.

Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *